Jangan Merasa Tak Dihargai Karena Orang Terdekat Anda Diam, Tetapi Sejatinya Mendoakan

 

Terdapat seorang pemuda miskin yang hidup di sebuah desa terpencil. Ia terlahir dari keluarga yang sangat begitu miskin, bahkan rumah saja bekas kandang sapi milik salah satu tetangga. Dari segi pendidikan juga terbilang rendah. Hanya tamat sekolah dasar, itu saja harus beberapakali terhenti karena tidak naik kelas. Kerena pendidikan yang rendah itulah yang akhirnya membuatnya harus bekerja menjadi seorang butuh tani. Sebagai seorang buruh tentu dapat diketahui berapa hasil yang diterima. Kadang-kadang, maksudnya kadang menerima upah kadang tidak. Tergantung berapa banyak hasil pertanian yang telah dikerjakan.

Ia beberapa hari merasa tidak nyaman. Tidak nyaman bukan karena kehidupan yang miskin tetapi karena merasa kehidupan yang tidak lagi berguna. Setiap hari hanya itu-itu saja yang dilakukan tidak ada perubahan yang signifikan. Begitu juga dengan kehidupannya hanya menjadi seorang miskin yang serba kekurangan. Terlebih melihat teman-teman sekolah telah berhasil membuatnya semakin terpojok untuk melakukan sesuatu yang tidak rasional. Karena hal itulah yang membuat dirinya berniat untuk melakukan bunuh diri.

Sore hari menjelang petang, pemuda itu mengambil seutas tali dari salah satu kebun milik wagra. Tali itulah yang nanti akan digunakan untuk melakukan bunuh diri. Setelah itu perlahan pergi ke kebun untuk mencari tempat yang cocok untuk memuluskan niatnya. Tempat yang cocok tentu dilakukan yang tidak diketahui oleh orang. Karena jika diketahui niatnya akan gagal total.

Ia menuju ke salah satu pohon yang sudah tua dengan daun yang masih begitu rindang. Melihat gelagat dari pemudah itu sang pohon lantas berbicara lembut “pemuda yang tampan dan baik hati jangan bunuh diri di dahanku karena nanti bisa patah. Saya akan merasakan sakit yang luas biasa. Kasihan juga burung-burung pagi yang nanti akan hinggap di dahanku.”

Penjelasan dari pohon tua itu membuat sang pemda itu tidak melanjutkan untuk melakukan gantung diri. Ia kemudian pergi menuju pohon lain yang tidak jauh dari lokasi pohon yang pertama. Seperti pada pohon yang pertama melihat gelagat dari pemuda itu sang pohon berbicara lembut “anak muda yang tampan kalau kamu ingin bunuh diri jangan di dahanku. Coba lihat di atas ada apa, sarang burung. Kasihan mereka yang sudah bekerja keras nanti tidak akan dapat menikmati hasilnya. Karena gara-gara kamu yang bunuh diri di sini. Jangan egosi anak muda”. Mendengar tuturan dari pohon yang kedua itu sang pemuda lantas begitu marah. Namun, tidak melakukan bunuh diri di pohon yang kedua melainkan berjalan untuk mencari pohon yang cocok.

Sambil berlari pemuda itu menuju ke pohon yang begitu besar dan rindang. Ia berpikir pohon itu tidak akan bisa menolak karena alasan sudah tua atau yang lain karena pohonnya yang begitu kokoh. Melihat pemuda yang mendekat dengan membawa tali. Pohon ketiga lantas berujar dengan lembur pula “Hai anak muda jangan melakukan hal konyok di dahanku. Masih banyak orang yang membutuhkan dahanku. Terutama manusia yang setiap hari selalu berteduh ketika terik panas matahari. Jangan kamu renggut kebahagiana mereka?”

Mendegarkan kalimat sang pohon yang ketiga pemuda itu lantas termenung sejenak dan berpikir akan sesuatu hal. Setelah itu Ia kembali kerumah dan menyadari bahwa masih ada yang begitu menyayangi dan menghargainya. Selanutnya Ia pun bersemagat untuk memulai kehidupan yang baru dengan lembar semangat yang baru pula.

Melalui kisah di atas sepantasnya anda jangan merasa orang di sekeliling tidak begiu memperhatikan atau tidak menyayangi. Terlebih ketika pada saat terpuruk. Ingat masih ada tangan Tuhan yang selalu berada di samping anda. Selain itu, ada orang-orang tercinta yang telah menunggu anda untuk bangkit. Mungkin mereka tidak terlihat secara perilaku. Tetapi yakinkan bahwa mereka selalu berdoa untuk keselamatan dan kesusksesan anda.

Jangan merasa sendiri ketika mengalami kegagalan. Karena orang lain pasti pernah mengalaminya. Penting untuk dijadikan catatan anda tidak pernah sendiri. Kehidupan selalu bernilai dan bermakna. Untuk itu, peniting memaknai kehidupan yang jauh lebih berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *