Diremehkan Orang Lain Karena Dirasa Tidak Mampu? Jangan Khawatir Justru itu Akan Jadi Motivasi Besarmu

 

Hidup tidak selalu berada di jalan yang mulus. Ada yang mengatakan hidup itu seperti jalan mendaki gunung. Di perjalanan kita harus melewati rintangan-rintangan, seperti jalan menikung, jalan menurun, jalan berlubang, jalan bebatu dan jalan yang berlumpur. Bisa jadi itu jalan satu-satunya yang harus dilewati jika ingin menikmati puncak gunung yang indah dengan hamparan alamnya yang begitu mempesona.

Ada juga yang mengatakan hidup itu seperti roda, yang selalu berputar. Hidup tidak selamannya di atas, kadang waktu dibawah, dan kemudian niak kembali. Inilah perputaran hidup ini. Sehingga kita hidup tidak selamannya merasakan senang, namun ada waktunya kesedihan itu akan menghampiri dan menuntut kita untuk memaknainya.

Seperti halnya dalam kehidupan, perjuangan seorang pendaki bukit kesuksesan harus siap sakit. Salah satunnya ketika diri kita diremehkan oleh orang lain mengenai kemampuan yang kita miliki. Bagi pendaki kehidupan sejati, hal itu tetu tidak jadi masalah yang berarti. Justru sebaliknya, sikap remeh orang lain terhadap diri kita bisa menjadi salah satu amunisi, energi yang akan menggerakan kita untuk berbuat lebih baik ke depannya.

Misal, pada suatau waktu dalam sebuah forum, kebetulan atasan memberikan posisi kita sebagai bendahara. Namun, ketika itu ada salah satu pegawai meremehkan kemampuan kita, sebab belum memiliki pengalaman mengenai sistem perbendaharaan. Namun seketika itu, pasti akan muncul sikap emosi motivasi yang luar biasa. Motivasi itu intinya ingin membuktikan bahwa, say tidak seperti yang ia pikirkan. Meskipun belum memiliki pengalaman di dunia perbendaharaan namun emosi itu yang akan menuntunnya belajar, menemukan dan mendalami apa yang semestinya dilakukan dengan baik.

Seperti kisah seorang teman, ketika itu setelah lulus Sarjana Strata Satu ia ingin sekali menjadi guru Bahasa Indonesia di luar negeri. Tanpa berpikir panjang, setelah mendengar ada kesempatan. Ia seketika ikut mendaftarkan diri. Kebetulan saat itu yang menjadi panitia perekrutan adalah salah satu dosennya sendiri.

Pada sore hari, ia menemui dosen tersebut dan berminat untuk mendaftarkan diri sebagai guru Bahasa luar negeri, yang ketika itu akan ditempatkan di tiga negara, yakni Inggris, Jepang, dan Kanada. Sore itu ia langsung bisa bertemu dengan Sang Dosen.

Setelah ditanya maksud kedatangannya ke ruangan tersebut. Ia menjelaskan apa adanya mengenai niatan dan mimpinya tersebut. Lantas Sang Dosen pun meresponnya dengan senang. Namun sebelum ia mengisi form pendaftaran Sang Dosen menanyakan akan kemampuan bahasa Inggrisnya. Karena kebetulan ia mengambil Jurusan Bahasa Indonesia, tentu penguasaan bahasa Inggrisnya masih minim. Bahkan hampir mendekati ukuran tidak bisa.

Melihat hal itu, sontak Sang Dosen pun wajahnya berubah. Ia marah akan hal itu. Sebab kemampuan Bahasa Inggris merupakan prasyarat utama bagi guru luar negeri. Lantas Sang Dosen memarahinya.

“Mahasiswa tidak pecus saja mau jadi guru luar negeri. Sudah pergi dasar tidak berguan” Bentak Sang Dosen.

Mendengar bentakan itu, dalam hati teman saya tersumat marah. Tanpa mengucapkan salam ia langsung keluar dari ruang Sang Dosen itu dengan perasaan marah di hatinya. Penyebutan mahasiswa tidak pecus seakan menyumat obor kemarahannya ketika itu. Semenjak pertemuan itu. Berselang dua minggu, teman saya lantas mendaftarkan diri ke sebuah kursus bahasa Inggris.

Ia ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan apa yang ia inginkan, dan ia ingin melihatnya bangga dengan kemampuannya. Ia pun menjalani kursus itu selama satu tahun lamanya. Selama itu pula perkembangan bahsa Inggrisnya membaik. Selesai kursus, kebetulan ada pendaftaran ulang untuk gelombang selanjutnya. Tanpa berpikir panjang ia mendaftarkan diri. Kebetulan yang menjadi panitia bukan dosen yang kemarin. Saat itu pula ia mempraktikkan kemampuan komunikasi bahasa Inggrisnya, sampai pada akhirnya ia mampu menjadi guru bahasa Indonesia di Jepang.

Tiga tahun selanjutnya, saat musim liburan ia pulang ke Indonesia. Dan saat itu ia sedang mencari makan di sebuah restoran. Tidak sengaja ia bertemu dengan dosen yang merendahkannya beberapa tahun yang lalu. Saat itulah menjadi momen yang mengesankan. Sang dosen bangga dengan kemampuannya berbahasa Inggris, tidak itu saja ia juga mampu berbahasa Jepang dengan baik dan lancar.

“Jika Bapak tidak merendahkan saya waktu itu, mungkin saya tidak akan jadi seperti ini”

Kalimat terakhir yang diungkapkan teman saya itu menjadi sebuah nilai besar akan sebuah kejadian hidup yang kerap direndahkan oleh orang lain. Itu pantas disyukuri sebab kita telah diberi amunisi motivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Untuk itu jangan tersinggung ketika direndahkan orang lain, hayati, nikmati dan jalani dalam cita-cita pencapaian yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *